Infographics

GroupPhoto22_2d6488a50060c79af714fa25b3a3c79e

Tahun 2015 lalu, saya mengikuti serial Training of Trainers on Infographics yang diselenggarakan oleh GIZ. Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan national statistical office (NSO – semacam BPS kalau di Indonesia) dari sepuluh negara ASEAN dan ASEAN Secretariat. Training ini diselenggarakan di Hanoi, Bangkok, Jakarta dan diisi dengan pemateri dari Edelman. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas NSO dalam mengkomunikasikan data terkait ASEAN dalam rilis pers dan infografis.

Salah satu yang kami pelajari adalah perubahan lanskap media. Some fun facts below:

  • American adults spent more time consuming digital media than watching TV.
  • Largest Indonesian Newspaper Kompas has 500.000 readers (not subscription) compared to 69 millions on Facebook.
  • Conclusion: If you are not on digital properties, your voice will not be heard!

Atas dasar itu, visual storytelling memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia digital dan media sosial. Perubahan ini kemudian harus disikapi oleh NSO sebagai agen pemerintah untuk mengkomunikasikan data dan berita yang benar melalui konten visual yang mudah dipahami.

Salah satu output dari training ini adalah infografis yang kami terbitkan dalam publikasi dan outreach materials kami, misalnya infografis mengenai AEC at A Glance yang dapat dilihat di bawah ini:

Infographics - AEC at a Glance-page-002

 

This infographics was very popular during the last ASEAN Summit in KL and has gone up to the Prime Minister of Malaysia :). Harian The Star Malaysia kemudian juga mereproduksi infografis ini dalam salah satu artikel berjudul “Najib Calls on ASEAN to Build Thriving Community of Nations” yang bisa dilihat di bawah ini:

mainx_anr_2111_asean glancePDF

Infografis yang lain kami terbitkan dalam salah satu publikasi kami, ASEAN Economic Community 2015: Progress and Key Achievements. Edmund Sim, an American international trade lawyer and a lecturer of National University of Singapore then put the infographics in an article in his blog: Grading the ASEAN Economic Community Without a Scorecard.

Konten ini kemudian juga menjadi bagian dalam buletin ASEAN Community yang diterbitkan oleh harian nasional sepuluh negara ASEAN, di antaranya adalah Kompas dan Jakarta Post dari Indonesia.

590774a4-30dd-4942-92df-6e8b407e254a
Found the infographics in Kompas and Jakarta Post, during my flight to Solo.

It’s still far from perfect, yah namanya juga orang yang nggak ada background desain ya hehehe. However I found this training is useful dan relevant with my work. Jadi mudah-mudahan dengan sedikit latihan akan jadi konten yang lebih bagus lagi. I’ll share with you a few more infographics once nanti bikin lagi.

Cheers! 😀

 

 

Silver Spoon

Tidak usah membanding-bandingkan.

Everybody was born with their own silver spoon; ada yang dari lahir udah pinter banget, ada yang bangun tidur tetep keliatan cakep, ada yang humoris, dan lain-lainnya. Yet semua orang punya baggage masing-masing.

Let’s stop comparing ourselves to others. No one in the entire world can do a better job of being you than you.

Why we shouldn’t judge a country by its GDP

ideas.ted.com

Gross Domestic Product has become the yardstick by which we measure a country’s success. But, says Michael Green, GDP isn’t the best way to measure a good society. His alternative? The Social Progress Index, which measures things like basic human needs and opportunity.

Analysts, reporters and big thinkers love to talk about Gross Domestic Product. Put simply, GDP, which tallies the value of all the goods and services produced by a country each year, has become the yardstick by which we measure a country’s success. But there’s a big, elephant-like problem with that: GDP only accounts for a country’s economic performance, not the happiness or well-being of its citizens. With GDP, if your richest 100 people get richer, your GDP rises … but most of your citizens are just as badly off as they were before.

That’s one of the reasons the team that I lead at the Social Progress…

View original post 1,406 more words

Bachelor Degree : Irrelevant

Beberapa hari ini dapat curhat dari teman-teman: pekerjaan yang saat ini mereka jalani tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Lulusan pertanian bekerja di bank, lulusan sastra bekerja di sektor logistik, lulusan sains malah jadi jurnalis.

Pertanyaannya: apakah benar gelar sarjana kita tidak sesuai dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh pasar?

Jawabannya bisa ya dan bisa tidak.

Asumsi dasarnya, ilmu dan pengalaman yang kita dapatkan selama kuliah bisa menjadi bekal kita dalam mencari (atau menciptakan) pekerjaan. Masalahnya adalah, lapangan pekerjaan yang tersedia di pasar tidak selalu relevan dengan bidang studi kita saat kuliah. Jobstreet pernah melakukan survei di Indonesia pada tahun November 2014 mengenai hal ini.  Hasilnya, ketidaksesuaian pekerjaan yang ada dengan latar belakang yang dimiliki pada akhirnya membuat 54% karyawan terpaksa bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Tanpa disadari, hal ini berdampak serius pada penurunan produktivitas kerja hingga kecilnya jenjang karier.

Tetapi kemudian, apa iya kalau bekerja itu harus sesuai dengan bidang studi dulu saat kuliah? Bukankah ada banyak juga cerita di luar sana mengenai seseorang yang sukses di satu pekerjaan meskipun berbeda dengan pilihan studi saat kuliah dulu. Johan Budi, kuliah di jurusan Teknik UI, berkarir menjadi jurnalis, sekarang menjadi penegak hukum di KPK. Hasanuddin Abdurrahman, doktor di bidang fisika, sukses menjadi GM di Toray Indonesia.

Menghadapi dunia kerja, tentunya kita harus fleksibel dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan. Saat ini, startup di bidang inovasi sosial seperti Koperasi Kasih Indonesia atau Ruangguru.com, mulai bermunculan. Lapangan pekerjaan juga tumbuh di sektor-sektor lain. Profesi menjadi social media strategist, misalnya, mungkin tidak pernah terbayangkan akan ada posisi ini sepuluh tahun yang lalu.

Harus diakui, jurusan saat kuliah berperan penting untuk menyiapkan diri kita untuk memiliki pengetahuan dasar sebelum memasuki dunia kerja. Namun selebihnya ada banyak faktor yang berperan: passion, pengalaman berorganisasi dan bermasyarakat, atau bahkan network.

Profesi, konon berasal dari bahasa latin, proffesio. Yang artinya adalah janji kepada publik. Artinya profesi apapun yang kita pilih, itulah wujud pengabdian kita kepada masyarakat. Masalah senang atau tidak senang dengan pekerjaan, sesuai atau tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan kita, you decide. 🙂

Setelah Halaman Terakhir

Will post about my reading indicator soon! 🙂

Sidekick

Postingan Mbak Ade Kumalasari mengenai buku yang sudah ia baca selama tahun 2014. Postingan Mbak Ade Kumalasari mengenai buku yang sudah ia baca selama tahun 2014.

Mbak Ade Kumalasari membuat postingan menarik di hari pertama tahun 2015. Ia tidak menulis soal refleksi tahunan, pun resolusi. Yang ia tulis sebuah list sederhana. Tepatnya ada 32 item dalam listnya. List itu ia beri judul, “Buku Yang Kubaca 2014”.

Bagi saya postingan itu menarik karena dua hal. Pertama, saya menyukai list bukunya. Ya kamu benar, saya menilai orang dari bacaannya. Kedua, ini yang lebih penting, bagi saya Mbak Ade punya konsep jelas tentang kegiatan membaca.

View original post 619 more words

Recent Economic and Financial Indicators Report

“Though I agree that being stupid is one of human’s right, it is simply not recommended for you to use it.”

Muslimah Metal Engineer Zone

Dear para WNI dimanapun Anda berada,

Saya lampirkan laporan ekonomi dan finansial negara-negara di berbagai belahan dunia. Tabel ini diambil dari majalah The Economist edisi cetak di Inggris tanggal 18 April 2015. The Economist adalah salah satu majalah berbasis ekonomi dan bisnis yang berkualitas di Inggris. Dengan harga per eksemplar Rp 100ribu, itu berarti dalam satu semester harga subscription-nya mencapai Rp 2,6 juta dan saya yakin nilai ini sama atau lebih mahal dari rata-rata biaya SPP per semester universitas negeri di Indonesia. Jadi, majalah ini gak level sama facebooknya Jonru atau website-website murahan yang dibuat berdasarkan pesanan orang. Majalah ini diperuntukkan untuk para eksekutif, pemerintah, atau organisasi internasional, bukan anak-anak kemarin sore yang bacaan sehari-harinya semacam “Udah Putusin Aja” atau buku-buku risalah pergerakan islami, atau malah 9gag.

the economist

Gambar 1. Economic and financial Indicators of several countries (Gambar hasil Scan)

Karena saya sekarang akan membicarakan mengenai kondisi umum Indonesia, maka saya…

View original post 1,224 more words